Umumnya, jika seorang guru ingin mengetahui tingkat pemahaman siswa pada saat pembelajaran, guru akan mengajukan pertanyaan kepada siswa. Selanjutnya, guru akan menunjuk salah seorang siswa (yang telah mengangkat tangannya ketika guru memberikan pertanyaan) untuk menjawabnya. Seandainya jawaban yang diberikan tidak tepat, barulah siswa yang lain berpeluang untuk menjawab pertanyaan tersebut. Itupun seorang saja.

Cara demikian banyak kelemahannya. Salah satu gejala yang umum kita perhatikan atau alami ialah apabila guru memberikan pertanyaan, semua siswa akan menjawab pertanyaan tersebut atau sambil mengangkat tangan, siswa yang mengetahui jawabannya akan menjerit “Bu, saya! Saya!” (lihat Gambar 1). Ini terjadi karena semua menginginkan perhatian guru. Masalahnya ialah guru hanya mampu melayani seorang saja pada saat itu.

Gambar 1. Seluruh siswa mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan dari guru.

Untuk menghindari terjadinya hal seperti itu, salah satu cara ialah melalui pembelajaran kooperatif tipe NHT.

Number Heads Together merupakan kegiatan belajar kooperatif yang dikembangkan oleh Spencer Kagan (1993) untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.

(http://learning-with-e.blogspot.com/2006/09/pembelajaran.html#4) tipe NHT adalah suatu metode belajar dimana setiap siswa diberi nomor kemudian dibuat suatu kelompok kemudian secara acak guru memanggil nomor dari siswa

Pembelajaran kooperatif tipe NHT menggunakan empat langkah (Ibrahim dkk, 2000:28) sebagai berikut:

Langkah-1:     Penomoran. Guru membagi siswa ke dalam kelompok beranggotakan 3-5 orang dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1 sampai 5.

Langkah-2:     Mengajukan Pertanyaan/Permasalahan. Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan dapat bervariasi.

Langkah-3:     Berpikir Bersama. Siswa menyatukan pendapatnya terhadap pertanyaan itu dan meyakinkan tiap kelompok dalam timnya mengetahui jawaban itu.

Langkah-4:     Menjawab. Guru memanggil suatu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba untuk menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas.

Dalam pembagian tim hendaknya setiap tim terdiri dari siswa dengan kemampuan yang bervariasi: satu orang berkemampuan tinggi, dua orang berkemampuan sedang, dan satu orang berkemampuan rendah. Di sini ketergantungan positif juga dikembangkan, dan yang kurang, terbantu oleh yang lain. Yang berkemampuan tinggi bersedia membantu, meskipun mungkin mereka tidak dipanggil untuk menjawab. Bantuan yang diberikan dengan motivasi tanggung jawab atau nama baik kelompok, yang paling lemah diharapkan antusias dalam memahami permasalahan dan jawabannya karena mereka merasa merekalah yang akan ditunjuk guru menjawab.

Penulis mengkritik pendapat dari Ibrahim tentang empat langkah pembelajaran kooperatif, karena berdasarkan langkah-langkah pembelajaran kooperatif secara umum harus dipenuhi minimal 6 langkah (seperti pada hal. 5). Oleh karena itu penulis memadukan langkah-langkah tipe NHT (oleh Ibrahim) dengan langkah-langkah pembelajaran kooperatif (hal. 5) sebagai berikut:

Tabel 2. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT

FASE

TINGKAH LAKU GURU

Fase-1Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa. Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.
Fase-2Menyajikan informasi. Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
Fase-3Penomoran Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 3-5 siswa dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1 sampai 5.
Fase-4Mengajukan pertanyaan/ permasalahan. Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa untuk dipecahkan bersama dalam kelompok. Pertanyaan dapat bervariasi
Fase-5Berpikir bersama. Siswa menyatukan pendapatnya terhadap pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban itu.
Fase-6Menjawab (evaluasi). Guru memanggil suatu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba untuk menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas.
Fase-7Memberikan penghargaan Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

2.4         Pembentukan dan Penghargaan Kelompok

Salah satu cara membentuk kelompok berdasarkan kemampuan akademik (http://zainurie.files.wordpress.com/2007/12/ppp pembelajaran kooperatif.pdf) seperti berikut ini. 

Tabel 3. Cara membentuk kelompok berdasarkan kemampuan akademik.

Kemampuan

No

Nama

Rangking

Kelompok

Tinggi

1

 

1

A

2

 

2

B

3

 

3

C

4

 

4

D

Sedang

5

 

5

D

6

 

6

C

7

 

7

B

8

 

8

A

9

 

9

A

10

 

10

B

11

 

11

C

12

 

12

D

Rendah

13

 

13

D

14

 

14

C

15

 

15

B

16

 

16

A

Umumnya guru memberikan penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar dari nilai dasar (awal) ke nilai kuis/tes setelah siswa bekerja dalam kelompok.

Cara-cara penentuan nilai penghargaan kepada kelompok (http://zainurie.files.wordpress.com/2007/12/ppp pembelajaran kooperatif.pdf) dijelaskan sebagai berikut:

Langkah-langkah memberi penghargaan kelompok:

1.      Menentukan nilai dasar (awal) masing-masing siswa. Nilai dasar (awal) dapat berupa nilai tes/kuis awal atau menggunakan nilai ulangan sebelumnya.

2.      Menentukan nilai tes/kuis yang telah dilaksanakan siswa bekerja dalam kelompok; misal nilai kuis I, nilai kuis II, atau rata-rata nilai kuis I dan kuis II kepada setiap siswa yang telah kita sebut nilai kuis terkini.

3.      Menentukan nilai peningkatan hasil belajar yang besarnya ditentukan berdasarkan selisih nilai kuis terkini atau nilai dasar (awal) masing-masing siswa dengan menggunakan kriteria berikut ini

KRITERIA

NILAI PENINGKATAN

Nilai kuis/tes terkini turun lebih dari 10 poin di bawah nilai awal.

5

Nilai kuis/tes terkini turun 1 sampai dengan 10 poin di bawah nilai awal.

10

Nilai kuis/tes terkini sama dengan nilai awal sampai dengan 10 di atas nilai awal.

20

Nilai kuis/tes terkini lebih dari 10 poin di atas nilai awal.

30

Penghargaan kelompok diberikan berdasarkan rata-rata nilai peningkatan yang diperoleh masing-masing kelompok dengan memberikan predikat cukup, baik, sangat baik, dan sempurna.

Kriteria untuk status kelompok

Cukup, (rata-rata nilai peningkatan kelompok < 15).

Baik, (15 ≤ rata-rata nilai peningkatan kelompok < 20).

Sangat Baik, (20 ≤ rata-rata nilai peningkatan kelompok < 25).

Sempurna, (rata-rata nilai peningkatan kelompok ≥ 25).

2.5         Penggunaan Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT pada Pokok Bahasan Relasi Himpunan

Langkah-langkah pembelajaran:

Fase-1.   Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.

          Guru menyampaikan indikator, tujuan pembelajaran yang akan dicapai.

  • ·        Indikator

Memahami relasi

  • ·        Tujuan pembelajaran

Siswa dapat:

1)      Menyebutkan pengertian relasi.

2)      Memberikan contoh relasi.

3)      Menyajikan relasi.

          Guru memberi stimulus kepada siswa dengan menanyakan “Apa yang diketahui tentang Relasi”.

Fase-2.   Menyajikan informasi

  • ·         Guru menjelaskan pengertian relasi dan memberi contoh.

Relasi dari himpunan A ke himpunan B adalah pemasangan anggota himpunan A ke anggota himpunan B dengan syarat tertentu.

Jack
John
Saya suka sepak bola dan tenis

Contoh 1.

Erika
Susi
Saya suka sepak bola dan volly

                                    

Saya suka renang dan volly
Saya suka renang dan tenis

                                        

Pada kejadian tersebut, terdapat dua himpuna yaitu:

1. Himpunan pekerja: A = {John, Jack, Susi, Erika},

2. Himpunan olahraga: B = {tenis, volly, renang, sepak bola}

Kita dapat melakukan relasi (hubungan) antara anggota himpunan A dengan anggota himpunan B, seperti ditunjukkan pada Gambar 2.

JohnJack SusiErika 
Sepak bolaRenangVollyTenis
A
B

                Gambar 2.   Diagram panah dari himpunan A ke himpunan B

                                  dengan relasi “menyukai olahraga”.

Himpunan A disebut domain (daerah asal) relasi dan himpunan bagian dari himpunan B (himpunan anggota yang bersifat a R b dengan b Î B) disebut range (daerah jelajah) dari relasi. Himpunan B disebut kodomain relasi.

  • ·         Guru menjelaskan bagaimana menyajikan relasi

Relasi dapat disajikan dengan diagram panah, himpunan pasangan berurut dan diagram cartesius.

Contoh 2. Dari contoh 1, relasi yang menunjukkan “menyukai olahraga” dapat disajikan dengan:

a.       Diagram panah`

JohnJack SusiErika 
Sepak bolaRenangVollyTenis
A
B

b.      Himpunan pasangan berurut

Berasal dariHimpunan B
Berasal dariHimpunan A

Jika suatu relasi A → B, maka pasangan berurutannya (…., ….)

Berasal dariHimpunan A
Berasal dariHimpunan B

Jika suatu relasi B → A, maka pasangan berurutannya (…., ….)

Jadi, contoh 1. relasi dari A → B dapat dibuat himpunan pasangan berurutnya yaitu: {(John, Sepak bola), (John, Volly), (Jack, Sepakbola), (Jack, Tenis), (Susi, Renang), (Susi, Tenis), (Erika, Renang), (Erika, Volly)}

c.       Diagram Kartesius

Sepak bola

Renang

Volly

Tenis

Jenis Olahraga

Pekerja

Fase-3    Penomoran

Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 3-5 siswa dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1 sampai 5.

Fase-4    Mengajukan Pertanyaan/Permasalahan

Guru memberikan pertanyaan kepada siswa untuk dipecahkan bersama dalam kelompok.

Soal:

1.      Gambar di samping menunjukkan relasi dari himpunan A ke himpunan B. Salin dan lengkapilah diagram panah yang menunjukkan relasi “dua kali dari”.

2

4

6

8

10

12

0

2

4

6

8

A
B

2.      Salinlah diagram di bawah ini.

BangkokJakartaNew DelhiParis
   IndonesiaPrancisThailandIndia

A

B

a.       Gambarlah diagram panah dari setiap nama ibu kota dalam himpunan A ke nama negara dalam himpunan B.

b.      Sebutkan nama relasi seperti pada soal a tersebut.

3.      Dalam rangka merayakan hari ulang tahunnya, Ita mengajak Edo, Nungki, Nana, dan Dhika ke suatu restoran terdekat. Seorang Pramusaji datang menghampiri mereka dan mencatat pesanan mereka.

Ita            :   “Saya pesan nasi goreng, jus alpukat, dan puding”.

Edo         :   “Pesanan saya seperti Ita, tapi saya tidak suka puding. Oh ya, karena saya sangat lapar, saya juga pesan mie goreng.

Nungki     :   “Saya pesan mie goreng dan jus melon.”

Nana       :   “Saya pesan ayam bakar dengan nasi goreng. Oh ya, juga jus alpukat”.

Dhika       :   “Pesanan saya seperti Nana, tapi saya juga pesan puding”.

Sekarang, coba kamu bantu pramusaji dengan mengambarkan pesanan masing-masing anak dengan diagram panah.

Fase-5    Berpikir Bersama

Siswa menyatukan pendapatnya terhadap pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban itu.

Fase-6    Menjawab (Evaluasi)

Guru memanggil suatu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mencoba untuk menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas.

Guru     :  “Kepala Bernomor 3, selesaikan soal nomor 1 di papan tulis.”

(Jika jumlah kelas ada sebanyak 20 orang siswa dan satu kelompok terdapat 5 orang, maka siswa dengan kepala bernomor 3 ada sebanyak 4 orang. Keempat siswa tersebutlah yang akan menjawab soal nomor 1).

Salah seorang siswa dengan kepala bernomor 3 (anggota kelompok I) mengerjakan soal nomor 1 di papan tulis sebagai berikut:

2

4

6

8

10

12

0

2

4

6

8

A
B
Dua kali dari

Guru     :  “Bagus, jawabanmu benar!”

Guru     :  “Sekarang, coba kamu jelaskan baca diagram tersebut!” (dengan menunjuk salah seorang siswa dengan kepala bernomor 3 (anggota kelompok II)).

Siswa    :  4 dua kali dari 2, benar

                8 dua kali dari 4, benar

                12 dua kali dari 6, benar

                Jadi, relasi A → B menunjukkan relasi “dua kali dari”

Guru     :  “Ya, jawabanmu benar!”

Demikianlah selanjutnya proses presentase untuk soal no. 2 dan 3.

Guru juga dapat memberikan soal evaluasi (test individual).

 

Fase-7    Memberikan Penghargaan

Guru memberikan penghargaan. Penentuan penghargaan kelompok dilihat dari skor awal (nilai ulangan sebelumnya).

Contoh proses penentuan penghargaan kelompok (berdasarkan hal. 11)

Kelompok/ Nomor

Nama Siswa

Nilai Ulangan Sebelumnya

Nilai Evaluasi

Nilai Peningkatan

Nilai Penghargaan Kelompok

I

1

2

3

4

5

AndiTrogonRaja

Adirya

Anita

95

75

85

45

35

95

100

95

65

50

20

30

20

30

30

26

Sempurna

       

130

Rata-rata = 130 : 5 = 26

 

Penghargaan Kelompok I adalah Sempurna

II

1

2

3

4

5

FahmiRioAntok

Prasetyo

Ridwan

100

73

71

66

65

98

70

91

65

100

10

10

30

10

30

18

Baik

       

Rata-rata = 90 : 5 = 18

 

Penghargaan Kelompok II adalah Baik

2.6         Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT

Kita mengetahui bahwa setiap model pembelajaran dan metode pembelajaran yang manapun pasti memiliki kelebihan dan kelemahan. Berikut ini merupakan kelebihan dan kelemahan pembelajaran kooperatif tipe NHT (http://learning-with-me.blogspot.com/2006/09/pembelajaran.html#4) adalah:

1.      Kelebihan

         Setiap siswa menjadi siap semua.

         Dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh.

         Siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai.

2.      Kelemahan

         Kemungkinan nomor yang dipanggil, dipanggil lagi oleh guru.

         Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru.

         Kendala teknis, misalnya masalah tempat duduk kadang sulit atau kurang mendukung diatur kegiatan kelompok.