Beranda

Teori Belajar Matematika


Hasil Karya Sri Wiyati, S. Pd

A.  Teori Belajar Matematika

    Belajar adalah suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan             hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari pada itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan latihan, melainkan perubahan kelakuan (Oemar Hamalik, 2003: 36).

Adapun teori belajar yang dipakai disini dari Endang S. dan Sumaryanta (2005: ) adalah sebagai berikut:

1. Teoti Belajar Vygotsky

Vygotsky berpendapat bahwa interaksi sosial yaitu interaksi individu dengan orang-orang lain merupakan faktor yang terpenting yang mendorong atau memicu perkembangan kognitif seseorang. Proses belajar akan terjadi secara efektif dan efisien apabila siswa belajar secara kooperatif dengan suasana lingkungan yang mendukung (supportive) dengan bimbingan orang yang lebih mampu.

Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Vygotsky maka diharapkan dalam penggunan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together dalam pembelajaran siswa dapat bekerjasama/berdiskusi dalam menyelesaikan permasalahan sehingga tercipta suasana yang menyenangkan.

2. Teori Belajar Bruner

Menurut Bruner belajar merupakan proses aktif yang memungkinkan manusia untuk menemukan hal-hal baru diluar informasi yang diberikan kepadadirinya. Jika seorang mempelajari suatu pengetahuan itu dapat diinternalisasi dalam pikiran orang tersebut.

Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Bruner maka diharapkan dalam penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together dalam pembelajaran siswa dapat aktif di dalam kelas. Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together dalam pembelajaran akan membantu siswa untuk mendapatkan pengetahuan tidak hanya dengan cara menghafal tetapi siswa mendapatkan pengetahuan dengan cara berdiskusi/bekerjasama dalam teman yang lain dalam kelompok.

B.  Prestasi Belajar Matematika

    Prestasi belajar dalam evaluasi instruksional yaitu bahwa prestasi berasal dari bahasa Belanda “prestatie”, kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi “prestasi” yang berarti hasil usaha. Prestasi belajar mempunyai beberapa fungsi utama, antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Prestasi belajar sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai anak didik.
  2. Prestasi belajar sebagai lambang pemuasan hasrat ingin tahu. Hal ini didasarkan atas asumsi bahwa para ahli psikologi biasanya menyebut hal ini sebagai tendensi keingintahuan dan merupakan kebutuhan umum bagi manusia, termasuk kebutuhan anak didik dalam suatu program pendidikan.
  3. Prestasi belajar sebagai bahan informasi dalam inovasi pendidikan. Asumsinya adalah bahwa prestasi belajar dapat dijadikan pendorongbagi anak didik dalam meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan berperan sebagai umpan balik dalam meningkatkan mutu pendidikan.
  4. Prestasi belajar sebagai indikator intern dan ekstern dari suatu institusi pendidikan. Indikator intern dalam arti bahwa prestsi belajar dapat dijadikan indikator produktivitas suatu institusi pendidikan. Asumsinya bahwa kurikulum yang digunakan relevan dengan kebutuhan masyarakat dan anak didik. Indikator ekstern dalam arti bahwa tinggi-rendahnya prestasi belajar dapat dijadikan indikator tingkat kesuksesan anak didik di masyarakat. Asumsinya adalah bahwa kurikulum yang digunakan relevan pula dengan kebutuhan pembangunan masyarakat.

Prestasi belajar dapat dijadikan indikator terhadap daya serap (kecerdasan) anak didik. Dalam proses belajar-mengajar anak didik merupakan masalah yang utama dan pertama karena anak didiklah yang diharapkan dapat menyerap seluruh materi pelajaran yang telah diprogramkan dalam kurikulum (Zainal Arifin, 1991: 3-4).

Sedangkan pengertian matematika yang tepat belum dapat dirumuskan. Ada banyak pengertian matematika yang berbeda-beda antara stu tokoh dengan tokoh lainnya. Perbedaan pengertian matematika itu tergantung pada pengalaman dan sudut pandang dari tokoh yang mengadakan penelitian terhadap suatu obyek matematika.

Matematika berasal dari bahasa Latin yaitu Mathemathica, yang mula-mula dari bahasa Yunani yaitu Mathematie yang berarti pengetahuan atau ilmu. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, matematika diartikan sebagai ilmu tentang bilangan-bilangan, hubungan antara bilangan dengan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan (id.wikipedia.org/wiki/Matematika).

Dari pengertian prestasi belajar dan pengertian matematika, maka prestasi belajar dapat diartikan sebagai penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran matematika atau dapat diartikan bahwa prestasi belajar matematika adalah merupakan suatu hasil usaha dalam ilmu matematika. Prestasi belajar matematika tidak hanya dilihat dari hasil atau nilai akhir yang diperleh siswa tetapi diliat juga dari proses belajar siswa dalam memahami suatu materi untuk mencapai nilai akhir tersebut.

C.  Model Pembelajaran

    Dalam suatu pembelajaran matematika, model pembelajaran sangat penting perannya. Guru harus mampu memilih metode pembelajaran yang tepat untuk menyampaikan suatu materi kepada siswanya. Hal ini diharapkan supaya hasil belajar atau prestasi siswa dapat maksimal sehingga sasaran yang diharapkan dapat tercapai.

Model pembelajaran pada Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together. Pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola-pola interaksi siswa dalam memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan isi akademik. Tipe ini dikembangkan oleh Kagen dalam Ibrahim (2000 : 28) dengan melibatkan para siswa dalam menelaah bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT merujuk pada konsep Spencer Kagen dalam Ibrahim (2000 : 28) untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dengan mengecek pemahaman mereka mengenai isi pelajaran tersebut. Sebagai pengganti pertanyaan lansung kepada seluruh kelas, guru menggunakan empat langkah sebagai berikut : (a) Penomoran, (b) Pengajuan pertanyaan, (c) Berpikir bersama, (d) Pemberian jawaban.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, pembelajaran kooperatif tipe NHT merupkan model pembelejaran dimana siswa saling bekerjasama dalam kelompok dan saling membantu dalam memahami materi pelajaran. Dengan pembelajaran kooperatif tie NHT memungkinkan siswa belajar lebih aktif, serta dapat memenuhi kebutuhan siswa secara optimal guna pencapaian tujuan belajar. Dalam hal ini siswa bekerjasama dan belajar dalam kelompok serta bertanggung jawab pula terhadap kegiatan belajar siswa lain dalam kelompoknya.

Menurut Stahl dalam Ismail (2002: 12) bahwa ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah:

1)   Belajar dengan teman

2)   Tatap muka antar teman

3)   Mendengarkan diantara anggota

4)   Belajar dari teman sendiri dalam kelompok

5)   Belajar dalam kelompok kecil

6)   Produktif berbicara atau mengemukakan pendapat

7)   Siswa membuat keputusan

8)   Siswa aktif

Sedangkan menurut Johnson dalam Ismail (2002: 12) belajar dengan koopertif mempunyai ciri :

1)   Saling ketergantungan yang positif

2)   Dapat dipertanggungjawabkan secara individu

3)   Heterogen

4)   Berbagi kepemimpinan

5)   Berbagi tanggung jawab

6)   Ditekankan pada tugas dan kebersamaan

7)   Mempunyai ketrampilan dalam berhubungan sosial

8)   Guru mengamati

9)   Efektifitas tergantung kepada kelompok

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

1) Siswa belajar dalam kelompok, produktif mendengar, mengemukakan pendapat dan membuat keputusan secara bersama.

2) Kelompok siswa yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari latar belakang sosial, jenis kelamin, dan kemampuan belajar.

3) Panghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok.

 

Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif mempunyai tiga tujuan yang hendak dicapai :

1)   Hasil belajar akademik

Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Banyak ahli yang berpendapat bahwa model pembelajaran kooperatif unggul dalam membantu siswa untuk memahami konsep-konsep yang sulit.

2)   Pengakuan adanya keragaman

Model pembelajaran kooperatif bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai macam perbedaan latar belakang. Perbedaan tersebut antara lain perbedaan suku, agama, kemampuan akademik dan tingkat sosial.

3)   Pengembangan keterampilan social

Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk mengembangkan keterampilan social siswa. Keterampilan sosial yang dimaksud dalam pembelajaran kooperatif adalah berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide atau pendapat dan bekerja sama dalam kelompok.

Dalam pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together langkah-langkah proses pembelajaran yang terjadi adalah sebagai berikut:

Tabel 1: Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif NHT

Langkah

Langkah

 

1

Langkah 1:Persiapan.  Guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. 

2

Langkah 2:Pembentukan kelompok.  Dalam pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 4 sampai 5 orang siswa. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari latar belakang sosial, jenis kelamin dan kemampuan belajar. Selain itu, dalam pembentukan kelompok digunakan nilai tes (pre-test) sebagai dasar dalam menentukan masing-masing kelompok.Sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, guru memperkenalkan keterampilan kooperatif dan menjelaskan tiga aturan dasar dalam pembelajaran kooperatif yaitu :1.    Tetap berada dalam kelas

2.    Mengajukan pertanyaan kepada kelompok sebelum mengajukan pertanyaan kepada guru

3. Memberikan umpan balik terhadap ide-ide serta menghindari saling mengkritik sesama siswa dalam kelompok

3

Langkah 3:Diskusi masalah  Guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok, setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa setiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Pertanyaan dapat bervariasi, dari spesifik sampai yang bersifat umum. 

4

Langkah 4:Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban  Dalam tahap ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas. 

5

Langkah 5:Memberi kesimpulan  Guru memberikan kesimpulan atau jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan. 

6

Langkah 6:Memberikan penghargaan  Guru memberikan penghargaan berupa kata-kata pujian pada siswa dan memberi nilai yang lebih tinggi kepada kelompok yang hasil belajarnya lebih baik.

D.  Kerangka Berpikir

Pelajaran matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang dianggap sulit. Penyebab sulitnya pelajaran matematika dapat dikarenakan oleh berbagai macam faktor, diantaranya matematika merupakan suatu objek abstrak, cara mengajar guru, maupun sajian buku yang kurang menarik.

Hasil wawancara di SMP Negeri 5 Wadaslintang menunjukkan bahwa system mengaja guru dan metode yang digunakan belum tepat sehingga mempengaruhi kemauan siswa untuk belajar matematika. Siswa merasa jenuhdengan system mengajar guru yang monoton dan tidak mengaktifkan siswa sedangkan matematika adalah abstrak yang sulit dipahami oleh siswa. Hal ini mempengaruhi prestasi belajar siswa sehingga masih perlu untuk ditingkatkan.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka dalam proses pembelajaran diperlukan suatu model pembelajaran yang dapat menjadikan siswa merasa senang belajar matematika. Pembelajaran yang menarik bagi siswa yang dapat meningkatkan keaktifan, kreativitas, kemandirian dan motivasi belajar siswa serta dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menguasai materi matematika. Salah satunya yaitu dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together dalam pembelajaran yang merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa.

Dalam pembelajaran dengan model kooperatif tipe Numbered Head Together, siswa mencari pemecahan masalah dari seluruh masalah-masalah yang diberikan guru dengan memanfaatkan meja belajar yang ada. Oleh karena itu diperlukan suatu kreativitas, dan kemandirian dari siswa untuk belajar. Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together dalam pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, siswa yang belajar dengan model kooperatif tipe Numbered Head Together akan menjadi lebih kreatifdan lebih cerdas.

E.  Hipotesis

Berdasarkan kerangka berpikir di atas, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together pada pembelajaran lingkaran maka prestasi belajar siswa dapat ditingkatkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s